Kamis, 24 Maret 2016

analisis film softskill kesehatan mental

tugas softskill 
edwina mulia 13514403
nurul hikrmah 185144274



TAREE ZAMEEN PAR

Sipnosis
Film ini menceritakan seorang anak bernama Ishaan Nandkishore Awasthi. Dia adalah seorang anak berusia delapan tahun yang tidak menyukai sekolah. Setiap pelajaran dirasakan sulit baginya dan ia terus-menerus gagal ujian. Guru dan teman sekelasnya menjadikan Ishaan sebagai bahan penghinaan. Di sisi lain, Ishaan memunyai dunia yang penuh keajaiban yaitu negeri ajaib penuh dengan warna dan binatang animasi. Seni, meskipun tidak ada yang menyadari hal ini pada awalnya. Ia sulit diatur sama orang tuanya dia selalu terlambat jika bis jemputannya menjemputnya, ayah ishaan sangat sibuk iya tak sepat memperhatikan anaknya bahkan sesekali anak itu buat salah iya hanya memarahinya tanpa bertanya apa penyebabnya dan mengapa anaknya melakukannya.
Ishaan memiliki kakak yang sangat pintar kakaknya selalu mendapatkan juara 1 ayahnya selalu membeda bedakan Ishaan dengan kakaknya. Sampai pada akhirnya Ishaan membolos sekolah, kedua orang tua Ishaan di panggil ke sekolahannya, ayahnya tidak terima dengan guru yang bilang anaknya tidak normal, ayahnya pun memindahkan Ishaan ke sekolah asrama dengan paksaan sehingga Ishaan tidak bisa menerima nya, pada saat iya sudah pindah teman temannya membully nya sama seperti di sekolah sebelumnya, Ishaan yang makin tertekan sudah tidak banyak lagi bicara iya sudah berhenti untuk melukis, ada salah satu guru yang mengerti akan kondisi Ishaan.
Guru nya pun mencari tau dengan membaca buku Ishaan, ternyata tulisan Ishaan terbalik balik , guru nya pun langsung mengunjungi rumah Ishaan, gurunya mencoba menjelaskan apa yang terjadi pada diri Ishaan pada orang tuanya, namun sang ayah masih tidak percaya pada kondisi anaknya tersebut tapi ayah nya tidak percaya ia masih berpikir kalo Ishaan yang tidak ngin belajar. Ishaan pun memiliki IQ diatas rata-rata dan ia memiliki bakat melukis tetapi ayahnya tidak percaya. Lalu gurunya pun memohon kepada kepala sekolah untuk mengadakan perlombaan melukis, dan Ishaan lah yang menang lalu semua percaya bahwa Ishaan memiliki kelebihan sendiri.

Analysis film
                 Ishaan tidak bisa membaca karena sulit untuk mencerna huruf dan angka, ia juga sulit menerima perintah orang tuanya, ia harus di bilangin beberapa kali dulu baru melakukannya dan dia harus melihat mata yg berbicara dulu baru dapat mencernanya dengan baik. Kasus seperti ini bisa di bilang iya mengalami disleksia. Disleksia adalah suatu gangguan belajar yang ditandai oleh kesulitan membaca. Gangguan ini dialami oleh anak-anak yang memiiliki penglihatan dan kecerdasan normal. Kadang anak penderita disleksia tidak terdiagnosis dan disadari sampai anak tersebut sudah dewasa.. Ini termasuk kesulitan dalam penerapan disiplin Ilmu Fonologi, kemampuan bahasa/pemahaman verbal. Diseleksia adalah kesulitan belajar yang paling umum dan gangguan membaca yang paling dikenal.
Ada 3 aspek kognitif penderita disleksia yaitu Pendengaran, Penglihatan, dan Perhatian. Disleksia mempengaruhi perkembangan bahasa seseorang. Penderita disleksia secara fisik tidak akan terlihat sebagai penderita. Disleksia tidak hanya terbatas pada ketidakmampuan seseorang untuk menyusun atau membaca kalimat dalam urutan terbalik tetapi juga dalam berbagai macam urutan, termasuk dari atas ke bawah, kiri dan kanan, dan sulit menerima perintah yang seharusnya dilanjutkan ke memori pada otak. Hal ini yang sering menyebabkan penderita disleksia dianggap tidak konsentrasi dalam beberapa hal. Sama halnya seperti Ishaan yang jika ia melihat angka atau tulisan yang diberikan gurunya, ia selalu mengalami kesulitan dan menganggap bahwa mereka adalah musuh bagi Ishaan. Dalam kasus lain, ditemukan pula bahwa penderita tidak dapat menjawab pertanyaan yang seperti uraian, panjang lebar. Itu seperti yang terjadi dengan Ishaan yang tulisannya terbalik balik, tidak dapat memahami perintah orang tuanya.
Biasanya penyebab disleksia dikaitkan dengan gen tertentu yang mengontrol perkembangan otak. Jika ada anggota keluarga yang memiliki disleksia, anak pun cenderung memilikinya juga. Gangguan belajar ini tampaknya mempengaruhi bagian otak yang berkaitan dengan kemampuan berbahasa. Anak penderita ADHD (attention-deficit/hyperactivity disorder) memiliki resiko lebih tinggi terkena disleksia, begitu juga sebaliknya. ADHD dapat menyebabkan berbagai kesulitan yang berkaitan dengan konsentrasi dan perilaku hiperaktif/impulsif, yang mana membuat disleksia lebih sulit ditangani. Selain mengalami kesulitan belajar, masalah disleksia pada anak juga dapat mengalami kesulitan sosialisasi. Jika terus dibiarkan dan tidak ditangani, disleksia dapat membuat anak menjadi rendah diri dan cemas. Tidak jarang anak penderita disleksia akan menarik diri dari pergaulan dengan teman sebaya dan tertutup bahkan kepada orang tuanya. Selain itu, beberapa di antara mereka juga berperilaku buruk atau agresif. Pada kasus yang terjadi pada Ishaan ketika ia tidak bisa apa-apa teman-teman sebayanya menjauhinya dan ia tidak pernah menceritakan tentang kejadian-kejadian yang ia alami disekolahnya pada orang tuanya sehingga membuat Ishaan merasa terasingkan ditambah lagi dengan perlakuan ayahnya terhadap Ishaan yang makin membuat Ishaan semakin terpuruk.

Ishaan beruntung karena ada seorang guru yang selalu memperhatikannya dan membantunya keluar dari masalah disleksia tersebut sehingga ia dapat membuktikan kepada orang-orang bahwa ia mampu dan ia sama seperti anak-anak pada umumnya, pada akhirnya Ishaan dapat kembali normal ia dapat membaca dan menulis seperti anak-anak pada umumnya.

Kamis, 10 Maret 2016

KONSEP SEHAT BERDASARKAN 5 DIMENSI,yaitu emosi,intelektual,sosial,fisik,dan spiritual.

KONSEP SEHAT.

PENGERTIAN SEHAT,
Secara umum, pengertian kesehatan yaitu suatu kondisi atau keadaan secara umum seseorang dari segi semua aspek. Dalam pengertian ini dimaksudkan bahwa kesehatan merupakan tingkat keefisienan dari fungsional dengan atau tanpa metabolisme dari suatu organisme dan juga termasuk manusia. Kesehatan dapat juga diartikan keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Menurut Undang-Undang, kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis.

KONSEP SEHAT MENURUT WHO
Menurut WHO (1947) Sehat itu sendiri dapat diartikan bahwa suatu keadaan yang sempurna baik secara fisik, mental dan sosial serta tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan (WHO, 1947).
Definisi WHO tentang sehat mempunyai karakteristik berikut yang dapat meningkatkan konsep sehat yang positif (Edelman dan Mandle. 1994) :
  1.  Memperhatikan individu sebagai sebuah sistem yang menyeluruh.
  2.  Memandang sehat dengan mengidentifikasi lingkungan internal dan eksternal.
  3. penghargaan terhadap pentingnya peran individu dalam hidup.

SEHAT MENURUT DEPKES RI
Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Dalam pengertian ini maka kesehatan harus dilihat sebagai satu kesatuan yang utuh terdiri dari unsur –unsur fisik, mental dan sosial dan di dalamnya kesehatan jiwa merupakan bagian integral kesehatan.

SEHAT BERDASARKAN 5 DIMENSI
Saya akan menjelaskan konsep kesehatan berdasarkan dimensi emosi, intelektual, sosial, fisik, dan spiritual.
1.     Dimensi Emosi, yaitu dimensi yang meihat dari bagaimana reaksi emosinya seperti menangis, sedih, bahagia, depresi, optimis. Kesehatan Emosional/Afektif dilihat dari kemampuan mengenal emosi dan mengekspresikan emosi tersebut secara tepat.
2.     Dimensi Intelektual yaitu dimensi yang melihat bagaimana seseorang berfikir dilihat dari wawasannya, pemahamannya, alasannya, logika dan pertimbangnnya. Pikiran sehat tercermin dari cara berpikir atau jalan pikiran.
3.     Dimensi Sosial yaitu dimensi yang melihat dari tingkah laku manusia dalam kelompok sosial, keluarga dan sesama lainnya serta penerimaan norma sosial dan pengendalian tingkah laku. Kesehatan Sosial dapat dilihat dari kemampuan untuk membuat dan mempertahankan hubungan dengan orang lain, perilaku kehidupan dalam masyarakat. Kesehatan sosial dapat dilihat juga dari kemampuan untuk memelihara dan memajukan kehidupan pribadi dan keluarganya sehingga memungkinkan bekerja, Beristirahat dan menikmati hiburan pada waktunya (UU No 9: pasal 3). Kesehatan sosial terwujud apabila seseorang mampu berhubungan dengan orang lain atau kelompok lain secara baik, tanpa membedakan ras, suku, agama atau kepercayan, status sosial,ekonomi, politik, dan sebagainya, serta saling toleran dan menghargai. Dalam arti yang lebih hakiki, kesejahteraan sosial adalah suasana kehidupan berupa perasaan aman damai dan sejahtera, cukup pangan, sandang dan papan. Dalam kehidupan masyarakat yang sejahtera, masyarakat hidup tertib dan selalu menghargai kepentingan orang lain serta masyarakat umum.
4.     Dimensi Fisik merupakan dimensi yang dapat ditelaah secara langsung atau memiliki dimensi yang paling nyata. Kesehatan fisik dapat dilihat dari kemampuan mekanistik dari tubuh. Kesehatan fisik terwujud apabila sesorang tidak merasa dan mengeluh sakit atau tidak adanya keluhan dan memang secara objektif tidak tampak sakit. Semua organ tubuh berfungsi normal atau tidak mengalami gangguan. Sehat jasmani merupakan komponen penting dalam arti sehat seutuhnya, berupa sosok manusia yang berpenampilan kulit bersih, mata bersinar, rambut tersisir rapi, berpakaian rapi, berotot, tidak gemuk, nafas tidak bau, selera makan baik, tidur nyenyak, gesit dan seluruh fungsi fisiologi tubuh berjalan normal.
5.     Dimensi Spiritual dilihat dari kepercayaan dan praktek keagamaan. Kesehatan spiritual dapat dilihat dari kemampuan seseorang dalam mencapai kedamaian hati. Spiritual sehat tercermin dari cara seseorang dalam mengekspresikan rasa syukur, pujian, kepercayaan dan sebagainya terhadap sesuatu di luar alam fana ini, yakni Tuhan Yang Maha Kuasa misalnya dilihat dari praktik keagamaan seseorang. Dengan perkataan lain, sehat spiritual adalah keadaan dimana seseorang menjalankan ibadah dan semua aturan-aturan agama yang dianutnya.

KESIMPULAN.

Konsep sehat adalah kondisi dimana saat tubuh dalam keadaan normal, diamana seseorang yang dinyatakan sehat ia bisa melakukan apapun tanpa merasakan sakit, dan sehat adalah modal awal bagi manusia untuk beraktifitas.

Minggu, 10 Januari 2016

Psychology and the internet

Chapter 6
Internet Addiction: Does It Really Exist? (Revisited)

Beberapa akademisi beraggapan bahwa penggunaan internet dapat menyebabkan pantologi dan kecanduan (Griffi THS, 1996a, 1998). ). Teknologi kecanduan dapat dilihat sebagai bagian dari kecanduan perilaku (Marks, 1990). Muda (1999a) mengklaim kecanduan internet adalah istilah yang luas yang mencakup luas berbagai perilaku dan masalah kontrol impuls. Dia telah dikategorikan inip erilaku dalam lima subtype yg spesifik :
1.      Kecanduan Cybersexual: penggunaan Kompulsif dari situs dewasa untuk cybersex dan pornografi.
2.      Kecanduan cyber hubungan: Overinvolvement dalam hubungan secara online
3.      Dorongan Net: Obsesif secara online perjudian, belanja atau hari-trading
4.      Informasi yang berlebihan: Compulsive web surfi ng atau database pencarian
5.      Kecanduan komputer: Obsesif komputer game-playing (Doom, Myst, Solitaire,dll)


PERBANDINGAN SURVEY STUDI KECANDUAN INTERNET DAN PENGGUNAAN INTERNET BERLEBIHAN.

Studi ini membahas pertanyaan apakah atau tidak Internet dapat menjadi adiktif , dan sejauh mana masalah yang terkait dengan penyalahgunaannya . Itu Kriteria DSM- IV untuk perjudian patologis yang memodifikasi untuk mengembangkan 8 -item kuisioner, sejak judi patologis dipandang untuk menjadi yang paling dekat di alam untuk penggunaan Internet patologis Peserta yang menjawab " ya" untuk 5 atau lebih dari 8 Kriteria diklasifikasikan sebagai kecanduan internet ( yaitu , " tanggungan " ) . A- diri yang dipilih sampel dari 496 orang menanggapi kuesioner dengan sebagian besar ( n = 396 )yang digolongkan sebagai " tanggungan . " Mayoritas responden juga perempuan ( 60 %).
fungsi internet, seperti chat room dan forum. Tanggungan juga melaporkan bahwa penggunaan internet mereka disebabkan sedang sampai masalah berat dalam keluarga mereka,
sosial, dan kehidupan profesional.seperti yang dikatakan young:
        i.            lebih interaktif dengan
      ii.            sedangkan pengguna biasa dilaporkan Beberapa efek negatif dari penggunaan internet, tanggungan melaporkan penurunan cant signifikan di banyak bidang kehidupan mereka, termasuk kesehatan, pekerjaan, sosial, dan keuangan. Namun, ada banyak keterbatasan penelitian termasuk (relatif)kecil sampel dipilih sendiri.
 
Egger dan Rauterberg (1996) juga melakukan studi secara online dengan mengajukan pertanyaan mirip dengan yang diminta oleh Young, meskipun kategorisasi mereka kecanduan adalah murni berdasarkan apakah responden sendiri merasa mereka kecanduan. Menggunakan
survei online, mereka berkumpul 450 peserta, 84% di antaranya adalah laki-laki. Responden yang selfreported sebagai "pecandu" melaporkan konsekuensi negatif dari penggunaan internet, keluhan dari teman dan keluarga selama jumlah waktu yang dihabiskan selama online, perasaan antisipasi ketika akan online, dan merasa bersalah tentang penggunaan internet mereka. Seperti Young studi, studi Egger dan Rauterberg menderita keterbatasan metodologis yang sama.
Selain itu, sebagian besar peserta adalah laki-laki dari Swiss.

Dalam sebuah studi-yang jauh lebih besar Virtual Ketergantungan Survey (VAS) -Greenfi lapangan (1999) melakukan survei online dengan 17.251 responden. Sampel terutama Kulit (82%), laki-laki (71%), dengan usia rata-rata 33 tahun. VAS termasuk item demografis (misalnya, usia, lokasi, latar belakang pendidikan), informasi deskriptif item (misalnya, frekuensi dan durasi penggunaan, spesifik penggunaan internet), dan item klinis (misalnya, rasa malu, hilangnya waktu, perilaku online). Ini juga termasuk sepuluh klasifikasi item dari kriteria DSM-IV untuk judi patologis. Sekitar 6% responden memenuhi kriteria untuk kecanduan pola penggunaan internet. Sementara analisis post-hoc diusulkan beberapa variabel yang membuat Internet yang menarik:
1.       keintiman Intens (41% dari total sampel, 75% tanggungan)
2.      Disinhibition (43% dari total sampel, 80% tanggungan)
3.      Kehilangan batas (39% dari total sampel, 83% tanggungan)
4.      Ketiadaan Waktu (sebagian sampel menjawab "kadang-kadang," sebagian besar
tanggungan menjawab "hampir selalu")
5.      Out of control (8% jumlah sampel, 46% tanggungan)


STUDI SURVEI INTERNET DI KECANDUAN KELOMPOK RENTAN
(yaitu, MAHASISWA)

Sejumlah penelitian lain telah menyoroti bahaya yang berlebihan Internet menggunakan dapat menimbulkan untuk siswa sebagai kelompok populasi. Populasi ini dianggap rentan dan berisiko mengingat aksesibilitas internet dan fleksibilitas dari jadwal mereka (Moore, 1995). Misalnya, Scherer (1997) mempelajari 531 mahasiswa di University of Texas di Austin. Dari jumlah tersebut, 381 siswa menggunakan internet di setidaknya sekali seminggu dan diteliti lebih lanjut. Berdasarkan kriteria paralelisasi dependensi kimia, 49 siswa (13%) adalah di klasifikasikan sebagai "tanggungan Internet" (71% laki-laki, 29% perempuan). Pengguna "Dependent" rata-rata 11 jam seminggu online bertentangan dengan rata-rata 8 jam untuk "nondependents."
Morahan-Martin dan Schumacher (2000) melakukan yang sama studi online. Internet patologis Gunakan (PIU) diukur dengan kuesioner 13-item menilai masalah karena penggunaan Internet (misalnya, akademik, pekerjaan, hubungan masalah, gejala toleransi, dan penggunaan suasana hati mengubah Internet). Orang-orang yang menjawab "ya" untuk 4 atau lebih item yang defi ned sebagai Internet patologis  pengguna. Para peneliti merekrut 277 pengguna internet sarjana. Dari jumlah tersebut, 8% yang digolongkan sebagai pengguna patologis. Pengguna Internet patologis lebih mungkin untuk menjadi laki-laki dan menggunakan situs teknologi canggihSelain itu, barang-barang yang digunakan untuk mengukur  ketergantungan yang mirip dengan item IRABI Brenner.

 Para penulis mengusulkan bahwa jenis aplikasi merupakan penting outlet untuk orang yang kesepian (terutama siswa yang baru saja pindah ke perguruan tinggi) karena mereka dapat tetap berhubungan dengan keluarga dan teman-teman, dan mendapati seseorang untuk chatting
dengan kapan saja. Tidak ada media lain dapat menawarkan kesempatan seperti itu. Penelitian lain seperti yang oleh Kennedy-Souza (1998), Chou (2001), Tsai dan Lin (2003), Chin-Chung dan Sunny (2003), Nalwa dan Anand (2003), dan KaltialaHeino et al. (2004) yang disurvei jumlah yang sangat kecil dari siswa dan remaja hanya terlalu kecil dan / atau metodologis terbatas untuk menarik kesimpulan nyata. Dari penelitian sejauh dibahas (di bagian ini dan sebelumnya satu perbandingan penelitian), jelas bahwa sebagian besar "Jenis prevalensi" Studi berbagi umum kelemahan. Kebanyakan menggunakan nyaman, peserta dipilih sendiri yang secara sukarela untuk menanggapi survei. Ini adalah kultus diffi karena itu untuk merencanakan apapun sebanding kelompok
Sebagai Griffi THS (2000a) mengamati,
(i)                 instrumen yang digunakan memiliki tidak ada ukuran beratnya,
(ii)               pertanyaan instrumen tidak memiliki dimensi temporal,
(iii)             studi memiliki kecenderungan untuk melebih-lebihkan kejadian masalah, dan
(iv)              penelitian tidak mempertimbangkan konteks penggunaan Internet (yaitu, adalah mungkin untuk beberapa orang yang akan terlibat dalam penggunaan yang sangat berlebihan karena itu adalah bagian dari pekerjaan mereka atau mereka berada dalam hubungan online dengan seseorang geografis jauh).



STUDI PSIKOMETRIK KECANDUAN INTERNET


Seperti dapat dilihat dari studi awal, sejumlah berbeda kriteria diagnostic telah digunakan dalam studi kecanduan internet. Salah satu kriteria yang paling umum digunakan adalah yang digunakan oleh Young (1996a) dan kemudian oleh orang lain. Diagnostic kuesioner terdiri dari delapan item dimodifikasi dari kriteria DSM-IV untuk judi patologis (lihat Tabel I). Dia mempertahankan skor cutoff dari lima, menurut young.

TABEL I
Young (1996) Kriteria diagnostik untuk Kecanduan Internet
 


o   Apakah Anda merasa asyik dengan internet (berpikir tentang aktivitas online sebelumnya atau   mengantisipasisesi secara online berikutnya)?
o   Apakah Anda merasa perlu untuk menggunakan Internet dengan meningkatnya jumlah waktu untuk mencapai kepuasan?
o   Apakah Anda berulang kali melakukan upaya gagal untuk mengontrol, mengurangi, atau menghentikan penggunaan internet?
o   Apakah Anda merasa gelisah, murung, tertekan, atau pemarah ketika mencoba untuk mengurangi atau menghentikan penggunaan internet?
o   Apakah Anda tetap online lebih lama daripada awalnya ditujukan?
o   Apakah Anda membahayakan atau mempertaruhkan hilangnya hubungan cant signifikan, pekerjaan, pendidikan, atau kesempatan karirk arena Internet?
o   Apakah Anda berbohong kepada anggota keluarga, terapis, atau orang lain untuk menyembunyikan tingkat keterlibatan dengan Internet?
o   Apakah Anda menggunakan Internet sebagai cara untuk melarikan diri dari masalah atau menghilangkan mood dysphoric (misalnya, perasaan tidak berdaya, rasa bersalah, kecemasan, depresi)?
 


dengan sejumlah kriteria yang digunakan untuk mendiagnosis judi patologis, meskipun yang terakhir memiliki dua kriteria tambahan. Bahkan dengan skor cutoff lebih ketat, itumenemukan bahwa hampir 80% dari responden dalam penelitian itu adalah ed klasifi sebagai tanggungan.
Beard and Wolf (2001) berusaha untuk memodifikasi kriteria Young, berdasarkan keprihatinan dengan objektivitas dan ketergantungan pada laporan diri. Beberapa kriteria dapat dengan mudah dilaporkan atau ditolak oleh peserta, dan penilaian mereka mungkin terganggu, sehingga influencing akurasi diagnosis. Kedua, beberapa item yang dirasa menjadi terlalu samar dan beberapa terminologi perlu klarifi ed (misalnya, apa yang dimaksud dengan "keasyikan"?). Ketiga, mereka mempertanyakan apakah atau tidak kriteria patologis perjudian yang paling akurat untuk digunakan sebagai dasar untuk mengidentifikasi kecanduan internet. Analisis faktor dipekerjakan di ini penelitian untuk meneliti kemungkinan konstruksi yang mendasari kecanduan komputer / internet.
TABEL II
Kriteria untuk Mengidentifikasi Kecanduan Internet (Beard & Wolfe, 2001)
 


Semua berikut (1-5) harus hadir:
1.      apakah disibukkan dengan internet (berpikir tentang aktivitas online sebelumnya atau mengantisipasi secara online berikutnyasidang)
2.      Kebutuhan untuk menggunakan Internet dengan peningkatan jumlah waktu untuk mencapai kepuasan
3.      Telah membuat upaya gagal untuk mengontrol, mengurangi, atau menghentikan penggunaan internet
4.      Apakah gelisah, murung, tertekan, atau pemarah ketika mencoba untuk mengurangi atau menghentikan penggunaan internet
5.      Apakah tinggal secara online lebih lama daripada awalnya ditujukan
Dan setidaknya salah satu dari berikut:
1.       Apakah membahayakan atau mempertaruhkan hilangnya hubungan cant signifikan, pekerjaan, pendidikan, atau kesempatan karir karena Internet
2.       Telah berbohong kepada anggota keluarga, terapis, atau orang lain untuk menyembunyikan tingkat keterlibatan denganInternet
3.       Menggunakan Internet sebagai cara untuk melarikan diri dari masalah atau menghilangkan mood dysphoric
 



kesepian, isolasi sosial, janji yang hilang, dan negatif umum lainnya
konsekuensi dari penggunaan internet mereka.
o    Faktor 2 difokuskan pada penggunaan dan kegunaan teknologi komputer di
umum dan Internet pada khususnya.
o   Faktor 3 difokuskan pada dua konstruksi yang berbeda yang bersangkutan penggunaan Internet untuk gratifi seksual kation dan rasa malu / introversi.
o   Faktor 4 difokuskan pada kurangnya masalah yang berkaitan dengan penggunaan Internet ditambah
dengan ringan keengganan / tidak tertarik pada teknologi.
        Ketergantungan internet telah paling sering dikonseptualisasikan sebagai perilaku kecanduan, yang beroperasi pada prinsip modifi ed model kecanduan klasik, tetapi validitas dan kegunaan klinis klaim tersebut juga telah mempertanyakan (Holden, 2001). Setelah faktor-faktor ini menarik keluar, individu-individu yang meninggalkan dapat dinilai darikecanduan dan impulsif murni dalam hal penggunaan internet mereka.Berdasarkan saat ini (belum terbatas) bukti empiris, Shapira dkk. (2003) diusulkan bahwa penggunaan internet bermasalah dikonseptualisasikan sebagai kontrol impuls kekacauan. Mereka mengakui bahwa meskipun kategori sudah merupakan salah satu yang heterogen, dari waktu ke waktu, sindrom c spesifik telah diindikasikan sebagai klinis berguna. Oleh karena itu, di gaya kriteria gangguan kontrol impuls DSM IV-TR, serta di samping diusulkan gangguan kontrol impuls dari kompulsif membeli, Shapira dkk. Diusulkan kriteria diagnostik yang luas untuk penggunaan Internet bermasalah (lihat Tabel III). Tiga sketsa klinis singkat kemudian dijelaskan untuk menggambarkan penggunaan kriteria yang diusulkan dan kompleksitas membedakan ini "gangguan." Semua peserta adalah mahasiswa yang pengguna berat (45 jam sebulan di dua bulan setidaknya, dengan rata-rata siswa menggunakan internet selama 15 jam per bulan

TABEL III
Kriteria diagnostik untuk Bermasalah Gunakan Internet (Shapira et al., 2003)
 


Keasyikan maladaptif dengan penggunaan internet, seperti yang ditunjukkan oleh setidaknya salah satu dari berikut:
Keasyikan dengan penggunaan internet yang dialami sebagai tak tertahankan Penggunaan berlebihan Internet untuk periode waktu yang lebih lama dari yang direncanakan Penggunaan Internet atau keasyikan dengan penggunaannya menyebabkan klinis signifi tidak bisa distress atau penurunan bidang sosial, pekerjaan, atau penting dari fungsi.
Penggunaan internet yang berlebihan tidak terjadi secara eksklusif selama periode hypomania atau mania dan tidak lebih baik dicatat oleh gangguan Axis I lainnya.


sebagai dilacak oleh Florida North East Regional Data Centre). Dari tiga sketsa dijelaskan, dua didiagnosis sebagai pengguna masalah berdasarkan kriteria yang diusulkan. Demikian pula, Rotunda dkk. (2003) digunakan instrumen mereka hanya disebut Internet Survey Gunakan. Isinya tiga komponen formal yang dieksplorasi (a) Data demografi dan penggunaan internet, (b) konsekuensi negatif dan pengalaman
terkait dengan penggunaan internet, dan (c) sejarah pribadi dan psikologis karakteristik peserta. Komponen (b) dan (c) termasuk beberapa item dari Kriteria DSM-IV untuk judi patologis, penggunaan narkoba ketergantungan, dan khususnya gangguan kepribadian (misalnya, skizoid). Sampel mereka terdiri dari 393 siswa, 53,6% perempuan (n = 210) dan 46,4% laki-laki (n = 182). Rentang usia adalah antara 18 dan 81 tahun, dengan rata-rata 27,6 tahun.

KECANDUAN INTERNET, KOMORDIBITAS, DAN HUBUNGAN KE PERILAKU LAIN

Studi sebelumnya telah menemukan bahwa penggunaan internet bermasalah cooccurs dengan lainnya gangguan kejiwaan (Black et al, 1999;.. Shapira et al, 2000). Griffi THS (2000a) memiliki mendalilkan bahwa dalam sebagian besar kasus, Internet tampaknya bertindak sebagai media untuk perilaku yang berlebihan lainnya, dan internet sebagian besar digunakan hanya untuk melaksanakan perilaku ini. Dengan kata lain, internet bertindak sebagai media dan bukan kausal Faktor (Shaffer et al., 2000). Beberapa faktor yang telah ditemukan terkait dengan IAD adalah ciri-ciri kepribadian, harga diri, dan gangguan kejiwaan lainnya.
Young dan Rodgers (1998) meneliti ciri-ciri kepribadian individu yang dianggap tergantung pada internet menggunakan Kepribadian Sixteen Faktor Persediaan (16 PF). Pengguna bergantung ditemukan untuk peringkat tinggi dalam hal kemandirian (yaitu, mereka tidak merasakan rasa keterasingan lain merasa saat duduk saja, mungkin karena fungsi interaktif dari Internet), emosional sensitivitas dan reaktivitas (yaitu, mereka tertarik untuk stimulasi mental melalui tak berujung database dan informasi yang tersedia secara online), kewaspadaan, keterbukaan diri yang rendah, dan nonkonformis karakteristik. Temuan-temuan dari studi ini tampaknya menunjukkan bahwa spesifik ciri-ciri kepribadian dapat mempengaruhi individu untuk mengembangkan PIU. Temuan serupa yang diperoleh Xuanhui dan Gonggu (2001), meneliti hubungan antara Kecanduan internet dan 16 PF.
Armstrong et al. (2000) menyelidiki sejauh mana mencari sensasi dan rendah diri diprediksi penggunaan internet yang lebih berat, menggunakan Masalah Internet Terkait Skala (IRPS). The IRPS adalah skala 20-item, faktor-faktor seperti toleransi meliputi, keinginan, dan dampak negatif dari penggunaan internet. Hasil penelitian menunjukkan bahwa harga diri adalah prediktor yang lebih baik dari "Kecanduan Internet" dibandingkan dengan impulsif. Individu dengan harga diri yang rendah tampaknya menghabiskan lebih banyak waktu online, dan memiliki skor lebih tinggi pada yang IRPS.
Petrie dan Gunn (1998) meneliti hubungan antara kecanduan internet, seks,usia, depresi dan introversi. Satu pertanyaan kunci adalah apakah peserta klasifikasikan diri mereka sebagai Internet "pecandu" atau tidak. Dari 445 peserta (kira-kira sama perpecahan gender), hampir setengah (46%) menyatakan bahwa mereka "kecanduan" ke Internet. Kelompok ini adalah Self-Defi Pecandu ned (SDA) kelompok. Tidak ada perbedaan jenis kelamin atau usia ditemukan  antara SDA dan Non-SDA.
Shapira dkk. (2000) yang digunakan evaluasi psikiatri tatap muka standar untuk mengidentifikasi karakteristik perilaku, keluarga sejarah psikiatri, dan komorbiditas individu dengan penggunaan Internet bermasalah. Sampel penelitian terdiri dari  20 peserta (11 pria dan 9 wanita), dengan usia rata-rata 36 tahun. Masalah terkait dengan penggunaan internet yang gangguan sosial cant signifikan (di 19 peserta), ditandai kesusahan pribadi atas perilaku mereka (di 12 peserta), gangguan kejuruan (di 8 peserta), keuangan gangguan (di 8 peserta),dan masalah hukum (dalam 2 peserta). Ditemukan bahwa setiap peserta Penggunaan internet bermasalah memenuhi kriteria DSM-IV untuk Disorder Impulse Kontrol Tidak Jika tidak spesifik ed, sementara penggunaan Internet hanya tiga peserta bertemu DSMIV kriteria untuk Obsesif Kompulsif Disorder. Semua peserta memenuhi kriteria untuk diSetidaknya satu seumur hidup DSM Axis I diagnosis. Hitam dkk. (1999) berusaha untuk memeriksa demografis, klinis, dan komorbiditas psikiatrik pada individu melaporkan penggunaan komputer kompulsif (n = 21). Mereka melaporkan menghabiskan antara 7 dan 60 jam seminggu pada yang tidak penting penggunaan komputer (rata-rata = 27 jam seminggu). Hampir 50% dari peserta bertemu dengan kriteria untuk gangguan saat ini, dengan menggunakan makhluk zat yang paling umum (38%),suasana hati (33%), kecemasan (19%), dan gangguan psikotik (14%). Hampir 25% dari sampel memiliki gangguan depresi saat ini (depresi atau dysthymia). Hasil penelitian menunjukkan bahwa delapan peserta (38%) memiliki setidaknya satu gangguan, dengan yang paling umum menjadi pembelian kompulsif (19%), perjudian (10%), pyromania (10%), dan kompulsif perilaku seksual (10%). Tiga dari peserta melaporkan kekerasan fisik dan dua melaporkan pelecehan seksual selama masa kanak-kanak. Hasil lainnya menunjukkan bahwa 11 peserta memenuhi kriteria untuk setidaknya satu gangguan kepribadian, dengan makhluk yang paling sering batas (24%), narsis (19%), dan antisosial (19%) gangguan. Mungkin itu karena sifat sensitif dari studi khusus ini bahwa ada jumlah yang sangat kecil peserta. Namun, hati-hati disarankan ketika menafsirkan hasil. Lain penelitian telah mendalilkan hubungan antara kecanduan internet, rasa malu (Chak &

Studi kasus kecanduan internet
Muda (1996b) menyoroti kasus seorang ibu rumah tangga 43 tahun yang tampaknya kecanduan internet. Kasus ini khusus dipilih karena itu bertentangan dengan stereotip muda, user online pria cerdas-komputer sebagai pecandu internet. Wanita itu tidak berorientasi teknologi, telah melaporkan kehidupan rumah puas, dan tidak punya masalah kejiwaan sebelumnya atau kecanduan. Karena sifat berbasis menu dan user-friendly dari browser web yang disediakan oleh nya penyedia layanan, dia bisa menavigasi internet dengan mudah meskipun mengacu pada dirinya sendiri sebagai "komputer-fobia dan buta huruf." Dia awalnya menghabiskan beberapa jam seminggu di berbagai chat room tapi dalam waktu tiga bulan, dia melaporkan kebutuhan untuk meningkatkan nya waktu online untuk sampai dengan 60 jam seminggu. Dia akan berencana untuk pergi online untuk dua jam, tetapi sering tinggal secara online lebih lama dari dia dimaksudkan, mencapai hingga 14 jam sesi. Namun, Young menyatakan bahwa dia tidak bisa menghilangkan penggunaan online-nya benar, atau membangun kembali hubungan dengan keluarganya tanpa intervensi. Sayajuga menyarankan bahwa hal ini menunjukkan bahwa faktor risiko tertentu, yaitu, jenis fungsi yang digunakan dan tingkat kegembiraan yang dialami ketika sedang online, mungkin dikaitkan dengan perkembangan penggunaan Internet adiktif.
Kasus kedua adalah dari Wu Quon, devisa 25 tahun laki-laki mahasiswa dari Asia yang memiliki sangat sedikit teman di sini di Amerika Utara. Dia menyatakanbahwa itu karena perbedaan budaya, dan kurangnya siswa Asia lainnya di perguruan tinggi. Dia berkata yang mampu menghubungi keluarga dan teman-teman setiap hari lega depresi dan kerinduan. Ia mengaku bahwa ia tidak kecanduan internet itu hanya menjadi bagian penting dari kehidupan dan rutinitasnya. Dia mengaku merasa tidak nyaman ketika ia offl ine tapi ia mengatakan bahwa itu karena merasa terputus dan keluar dari sentuhan dengan apa yang terjadi di rumah. Secara keseluruhan, ia dinilai nya Pengalaman di Internet sebagai positif.
Young dkk. (1999) juga melakukan survei di antara terapis yang memperlakukan klien yang menderita gangguan-maya terkait. Sampel terdiri dari 23 perempuan dan 12 terapis laki-laki, dengan rata-rata 14 tahun pengalaman praktek klinis. Mereka melaporkan beban kasus rata-rata sembilan klien bahwa mereka akan mengklasifikasikan sebagai Internet pecandu dirawat dalam satu tahun terakhir, dengan kisaran 2 sampai 50 pasien. Para pasien lebih mungkin untuk mengeluh tentang langsung menggunakan Internet kompulsif (CIU), bersama dengan konsekuensinya negatif dan kecanduan sebelumnya, bukan penyakit jiwa.
Hampir semua terapis (95%) merasa bahwa masalah CIU lebih luas dari jumlah kasus yang ditunjukkan.Dengan memeriksa bukti studi kasus secara keseluruhan, itu tidak muncul bahwa beberapaindividu tampaknya kecanduan internet dan menggunakan internet berlebihan. Dikasus yang diuraikan sebelumnya, penggunaan yang berlebihan hampir selalu menyebabkan semacam maladaptiftingkah laku. Namun, perilaku maladaptif sendiri tidak tentu menunjukkan kecanduan, meskipun beberapa kasus yang digariskan oleh Young dan Griffi ths tampil untuk menunjukkan individu menampilkan semua tanda-tanda yang sama dan gejala yang ditemukan di kecanduan yang lebih tradisional lainnya. Jelas, ada kebutuhan untuk lebih kasus Studi dari yang sudah diterbitkan, terutama dalam pengaturan klinis yang dapat memberikan wawasan dalam bagaimana mengatasi konsekuensi negatif.

MENGAPA MENGGUNAKAN INTERNET BERLEBIHAN TERJADI?

Sebagian besar penelitian yang telah dibahas tampaknya kurang landasan teorikarena sangat sedikit peneliti telah berusaha untuk mengusulkan teori penyebabnyakecanduan internet, meskipun sejumlah penelitian yang dilakukan di lapangan. Davis (2001) mengusulkan model etiologi penggunaan Internet patologis (PIU) menggunakan pendekatan kognitif-perilaku. Asumsi utama dari model ini adalah bahwa PIU dihasilkan dari kognisi bermasalah ditambah dengan perilaku yang mengintensifkan atau mempertahankan respon maladaptif. Ini menekankan individu pikiran / kognisi sebagai sumber utama perilaku abnormal. Davis ditetapkan bahwa gejala kognitif dari PIU mungkin sering mendahului dan menyebabkan gejala emosional dan perilaku bukan sebaliknya. Serupa dengan asumsi dasar teori kognitif depresi, berfokus pada kognisi maladaptif berhubungan dengan PIU.
Dalam kognitif-perilakumodel PIU, psikopatologi yang mendasarinya yang ada dipandang sebagai diatesis itu,karena banyak penelitian telah menunjukkan hubungan antara gangguan psikologisseperti depresi, kecemasan sosial, dan ketergantungan zat (Kraut et al., 1998). Model menyarankan bahwa psikopatologi adalah penyebab diperlukan distal dari PIU, yaitu, psikopatologi harus hadir atau harus terjadi agar PIU gejala terjadi. Namun, dalam dirinya sendiri, psikopatologi yang mendasari tidak akan mengakibatkan gejala PIU, tetapi adalah elemen penting dalam etiologi. Model diasumsikan bahwa meskipun psikopatologi dasar mungkin mempengaruhi seorang individu untuk PIU, set gejala terkait adalah spesifik c untuk PIU dan karena itu harus diselidiki dan diobati secara independen.
Pusat untuk model kognitif-perilaku adalah kehadiran maladaptive kognisi yang melihat menjadi penyebab proksimal suffi efisien dari PIU. Kognisi maladaptif yang dipecah menjadi dua subtipe-persepsi tentang diri sendiri, dan tentang dunia. Pikiran tentang diri dipandu oleh ruminative gaya kognitif. Individu yang cenderung memikirkan akan mengalami tingkat yang  Lebih tinggi dalam tingkat keparahan dan durasi dari PIU, sebagai studi telah mendukung bahwa ruminasi bakal meningkat atau mempertahankan masalah, sebagian dengan mengganggu  perilaku instrumental (yaitu, mengambil tindakan) dan pemecahan masalah
Berdasarkan model Davis ', Caplan (2003) lebih lanjut mengemukakan bahwa bermasalah kecenderungan psikososial menyebabkan berlebihan dan kompulsif ComputerMediated (CM) interaksi sosial pada individu, yang, pada gilirannya, meningkatkan mereka masalah. Teori yg diusulkan oleh Caplan, diperiksa secara empiris, memiliki tiga proposisi utama:
·         Individu dengan masalah psikososial (misalnya, depresi dan kesepian) terus persepsi negatif kompetensi sosial mereka dibandingkan dengan orang lain.
·         Mereka lebih memilih interaksi CM daripada yang tatap muka sejak mantan dianggap kurang mengancam dan individu-individu memandang diri untuk menjadi yang lebih efisien dalam pengaturan online.
·         Preferensi ini, pada gilirannya, menyebabkan penggunaan berlebihan dan kompulsif dari CM interaksi, yang kemudian memperburuk masalah mereka dan menciptakan yang baru di sekolah, kerja, dan rumah.

Di (2003) studi Caplan, para peserta terdiri dari 386 mahasiswa (279 perempuan dan 116 laki-laki), dengan usia berkisar 18-57 tahun (rata-rata usia = 20 tahun). Penelitian ini menggunakan Caplan (2002) Generalized Internet Bermasalah Gunakan Skala (GPIUS), laporan-diri menilai prevalensi kognitif dan perilaku gejala Internet patologis menggunakan bersama dengan sejauh mana negative konsekuensi terpengaruh individu. The GPIUS memiliki tujuh sub-skala-hati perubahan, dirasakan ts benefi sosial, dirasakan sosial kontrol, penarikan, compulsivity, penggunaan internet yang berlebihan, dan hasil negatif. Juga termasuk dalam penelitian ini telah divalidasi skala depresi dan kesepian.



KESIMPULAN

Label "Kecanduan Internet," "Addiction Disorder Internet," "patologis Internet Gunakan, "" Bermasalah internet Gunakan, "" berlebihan Internet Gunakan, "dan "Kompulsif Gunakan Internet" semua telah digunakan untuk menggambarkan kurang lebih sama Konsep, yaitu, bahwa seseorang bisa begitu terlibat dalam penggunaan online mereka untuk daerah lain mengabaikan kehidupan mereka. Namun, tampaknya dini pada tahap ini untuk menggunakan satu label untuk konsep, karena sebagian besar penelitian yang dilakukan sejauh telah disajikan berbagai tingkat perbedaan dan hasil yang saling bertentangan konflik

THS Griffi (2000a) menyatakan bahwa sebagian besar orang yang menggunakan Internet berlebihan tidak kecanduan internet itu sendiri, tetapi menggunakannya sebagai media untuk bahan bakarkecanduan lainnya. Griffi THS (2000a) mengatakan bahwa ada kebutuhan untuk membedakan antara kecanduan internet dan kecanduan di Internet. Dia memberikan contoh pecandu judi yang memilih untuk terlibat dalam perjudian online, serta computer pecandu permainan yang bermain online, menekankan bahwa Internet adalah tempat yang tepat di mana mereka melakukan dipilih (adiktif) perilaku mereka. Orang-orang ini menampilkan kecanduan pada Internet. Namun, ada juga pengamatan bahwa beberapa perilaku yang bergerak di atas Internet (misalnya, cybersex, cyberstalking) mungkin perilaku yang orang akan hanya melaksanakan di Internet karena media adalah anonim, tidak tatap muka, dan disinhibiting (Griffi THS, 2000c, 2001). Sebaliknya, ia juga mengakui bahwa ada beberapa studi kasus yang tampaknya melaporan kecanduan internet itu sendiri (misalnya, Young, 1996b; Griffi THS, 2000b). Sebagian besar orang menggunakan fungsi internet yang tidak tersedia di media lainnya, seperti chat room atau berbagai permainan peran-bermain. Ini orang tampaknya kecanduan internet karena mereka terlibat dalam kegiatan yang menggunakan fitur istimewa dari Internet. Namun, meskipun perbedaan-perbedaan ini, tampaknya ada beberapa temuan yang umum, terutama, laporan negative konsekuensi dari penggunaan internet yang berlebihan (mengabaikan pekerjaan dan kehidupan sosial, hubungan kerusakan, kehilangan kontrol, dll), yang sebanding dengan yang dialami  dengan lainnya, kecanduan lebih mapan. Kesimpulannya, tampak bahwa jika Internet kecanduan memang ada, itu hanya mempengaruhi persentase yang relatif kecil populasi internet. Namun, apa itu di Internet bahwa mereka kecanduan masih belum jelas. Yang jelas, adalah bahwa penelitian lebih lanjut diperlukan.


sumber: psychology and the internet books